Minggu, 30 April 2017

Visi dan Misi Utama Organisasi Nahdlatul Ulama

Visi dan Misi Utama Organisasi Nahdlatul Ulama

Ketika Nahdlatul Ulama' hidup di dunia modern, mau tidak mau organisasi ini juga harus ikut mengembangkan diri. Guna untuk menyesuaikan perkembangan zaman saat ini, maka AD/ART (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga) NU juga harus ikut berkembang, paling tidak setiap lima tahun sekali.

Berdasarkan keputusan Muktamar tahun 2004 di Donohudan, Boyolali disebutkan:

Tujuan Nahdlatul Ulama' didirikan yaitu berlakunya ajaran Islam yang menganut paham Ahlussunnah Wal Jamaah serta menurut pada salah satu dari keempat madzhab besar (Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali) untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang demokratis dan berkeadilan demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat.

Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana penjelasan diatas, maka NU hendaknya menjalankan usaha-usaha sebagai berikut:

  1. Di sektor agama, NU harus berupaya melaksanakan ajaran Islam yang menganut paham Ahlussunnah Wal Jamaah dan menurut di salah satu madzhab dalam masyarakat.
  2. Di sektor pendidikan, kebudayaan dan pengajaran, mengupayakan terwujudnya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran. Di samping itu, NU juga harus berupaya mengembangkan kebudayaan yang sesuai dengan ajaran Islam guna untuk membina umat agar menjadi Muslim yang takwa, berbudi luhur, berpengalaman luas serta berguna bagi nusa dan bangsa.
  3. Di sektor sosial, Nu setidaknya mengupayakan terwujudnya kesejahteraan lahir dan batin bagi penduduk Indonesia.
  4. Di sektor ekonomi, NU setidaknya mengupayakan terwujudnya pembangunan ekonomi untuk pemerataan kesempatan berusaha dan hasilnya lebih diutamakan kepada ekonomi kerakyatan.
  5. Mengembangkan usaha-usaha yang bersifat positif dan juga bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat banyak guna terwujudnya Khaira Ummah.

VISI MISI NU

VISI Nahdlatul Ulama'


Maju dalam Presentasi Santun dalam Pekerti. Terwujudnya generasi muslim Ahlussunnah Wal Jama'ah, cerdas, berkarakter, mandiri dan berakhlaqul karimah.

MISI Nahdlatul Ulama'

  • Membentuk pribadi muslim Ahlussunnah Wal Jama'ah yang beriman dan bertaqwa.
  • Membentuk generasi yang memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi.
  • Membentuk pribadi berkarakter dan berakhlaqul karimah.
  • Mengintensifkan pembelajaran intrakurikuler dan memiliki keunggulan di bidang akademik.
  • Menggiatkan pembelajaran ekstrakurikuler dan meningkatkan prestasi nonakademik.
  • Mampu mengimplementasikan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan potensi akademik dan nonakademik.
  • Mampu bersaing melanjutkan studi di perguruan tinggi.
  • Mampu berkiprah dalam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.
  • Memiliki bekal kemampuan untuk terjun di dunia kerja.

Baca juga:

Sabtu, 29 April 2017

Tafsir Surat Thaha Ayat 132 Tentang Tanggung Jawab Manusia Terhadap Orang Lain

Tafsir Surat Thaha Ayat 132 Tentang Tanggung Jawab Manusia Terhadap Orang Lain

1. Redaksi Ayat


وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

2. Makna Mufrodat


  1. Kata أَهْلَكَ atau ahlaka, keluargamu dapat mencakup sampai keluarga besar Rasulullah Muhammad SAW termasuk juga para istri dan anak cucu Beliau. Bahkan beberapa Ulama' ada yang memperluasnya sampai mencakup seluruh umat Beliau.
  2. Kata رزق pada awalnya, menurut pakar oleh bahasa Arab, Ibn Faris memiliki arti pemberian untuk waktu tertentu. Akan tetapi, arti asal ini berkembang menjadi rizki yang bisa diartikan sebagai pangan, pemenuhan kebutuhan, gaji, hujan dan lain sebagainya, bahkan sampai luas dan berkembangnya pengertian anugerah kenabian pun juga dinamai sebagai rizki.

3. Terjemah


132. dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, kamilah yang memberi rizki kepadamu, dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakqwa.

4. Analisa Kandungan


Menurut tafsir Kementrian Agama RI, yang menjadi amanah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah beliau diminta untuk mendirikan shalat kepada keluarganya sebagaimana telah diperintahkan kepada beliau sendiri dan tentu saja hal tersebut harus di barengi perintah yang kedua yaitu perintah agar tidak terpengaruh terhadap kenikmatan duniawi.

Demikian amanat Allah SWT kepada Rasul-Nya agar beliau mendapatkan bekal untuk menghadapi berbagai macam ujian di dunia, yang patut menjadi contoh tauladan bagi setiap orang Mukmin yang beriman kepada-Nya. Mereka harus menjalin hubungan baik dengan Sang Pencipta terlebih dahulu yaitu dengan mengerjakan perintah shalat 5 waktu dan memperkokoh batinnya melalui sifat sabar dan tabah.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kita patut untuk lebih menekankan dan meneladani sifat sabar dan tabah yang dimiliki oleh Rasulullah SAW dan juga perintah mengerjakan shalat pada lingkup keluarga. Bahkan hal ini pernah diterangkan oleh Rasulullah SAW untuk mendisiplinkan anak-anak di usia 7 tahun untuk mengerjakan shalat. Dan jika telah mencapai usia 10 tahun tidak mengerjakan, maka wajib diberi hukuman dengan memukulnya (tidak terlalu sakit).

5. Kandungan Hikmah


  • Allah SWT memerintahkan kita untuk waspada terhadap diri sendiri dan keluarga tentang ancaman api neraka yang bahan bakarnya berupa manusia dan batu amat panas.
  • Cara paling efektif agar terhindar dari siksa api neraka adalah membentengi keluarga dengan melaksanakan shalat sebagai ritual tertinggi.
  • Menyuruh anak-anak untuk mengerjakan shalat di umur 7 tahun, apabila sudah mencapai umur 10 tahun, kita wajib memukulnya.

Baca juga:

Jumat, 28 April 2017

Sejarah Lengkap Kelahiran Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU)

Sejarah Lengkap Kelahiran Berdirinya Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama' disingkat dengan NU memiliki arti kebangkitan ulama'. Sebuah organisasi yang didirikan oleh para ulama' pada tanggal 31 Januari 1926 Masehi atau 16 Rajab 1344 Hijriyah di Kota Surabaya.

Latar belakang berdirinya Nahdlatul Ulama' memang sangat berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran keagamaan dan politik dunia Islam waktu itu. Di tahun 1924, Syarif Husein yaitu seorang Raja Hijaz (Makkah) yang berpaham Sunni ditaklukkan oleh Abdul Aziz bin Saud yang bermadzhab Wahabi.

Pasca peristiwa itu, tersebarlah berita penguasa baru yang akan melarang semua bentuk amaliah keagamaan ala kaum Sunni yang pada saat itu memang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun di Tanah Arab, dan akan menggantinya dengan model Wahabi. Pengalaman agama sistem bermadzhab, ziarah kubur, tawasul, maulid nabi dan sebagainya secepatnya akan segera dilarang.

Tidak hanya itu saja, Raja Ibnu Saud juga menginginkan supaya melebarkan daerah kekuasaannya sampai ke seluruh dunia Islam. Dengan dalil demi kejayaan Islam, ia berencana untuk meneruskan kekhilafahan Islam yang telah terputus di Turki pasca runtuhnya Daulah Usmaniyah. Untuk itu, Raja Ibnu Saud berencana menggelar Muktamar Khilafah yang ada di Kota Suci Makkah sebagai penerus Khilafah yang terputus itu.

Semua negara Islam di dunia akan diundang untuk menghadiri acara muktamar tersebut, termasuk juga Indonesia. Awalnya, utusan yang di percaya yaitu HOS Cokroaminoto (SI), K.H. Mas Mansur (Muhammadiyah) serta K.H. Abdul Wahab hasbullah (pesantren). Akan tetapi, rupanya ada sedikit permainan licik di antara kelompok yang mengusung para calon utusan Indonesia. Sebab Kiai Wahab tidak mewakili organisasi resmi, maka nama beliau kemudian dicoret dari daftar calon utusan.

Peristiwa tersebut akhirnya menyadarkan para ulama' pengasuh pesantren akan pentingnya sebuah organisasi. Sekaligus menyisakan skit hati yang mendalam, sebab tidak ada lagi yang bisa dititipi sikap keberatan akan semua rencana Raja Ibnu Saud yang bertujuan akan mengubah model beragama di Makkah. Para ulama pesantren tentu tidak terima akan kebijakan raja yang anti kebebasan bermadzhab, anti ziarah makam, anti maulid nabi dan lain sebagainya. Bahkan, sempat terdengar pula berita bahwa makam Nabi Agung Muhammad saw berencana untuk digusur.

Menurut para kiai pesantren, pembaruan adalah suatu keharusan. K.H. Hasyim Asy'ari juga tidak mempersoalkan dan bisa menerima gagasan para kaum modernis supaya menghimbau umat Islam kembali pada ajaran yang 'murni'. Namun, Kiai Hasyim tidak bisa menerima jika pemikiran mereka meminta umat Islam melepaskan diri dari sistem bermadzhab.

Di samping itu, sebab ide pembaruan yang dilakukan dengan cara melecehkan, merendahkan serta membodoh-bodohkan, maka para ulama' pesantren kemudian menolaknya. Menurut mereka, pembaruan akan tetap dibutuhkan, namun tidak dengan khazanah keilmuan yang sudah ada dan masih bersangkutan. Karena kondisi itulah maka Jam'iyah Nahdlatul Ulama' didirikan.

Pendiri resmi Jam'iyah Nahdlatul Ulama' sendiri tak lain adalah Hadratus Syeikh K.H.M. Hasyim Asy'ari, satu-satunya pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Sedangkan yang bertindak sebagai arsitek sekaligus motor penggerak yaitu K.H. Abdul Wahab Hasbullah, pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. kiai Wahab ini adalah salah satu santri utama Kiai Hasyim. Ia sangat lincah dalam melakukan segala hal, energik, banyak akal ditambah ia sangat mahir dalam ilmu seni bela diri (pencak silat).

Susunan Pengurus PBNU Generasi Pertama Tahun 1926:


Syuriah


Rais Akbar : K.H. Hasyim Asy'ari dari Jombang
Wakil Rais Akbar : K.H. Dahlan Ahyad dari Kebondalem, Surabaya
Katib Awal : K.H. Abdul Wahab Hasbullah dari Jombang
Katib Tsani : K.H. Abdul Claim dari Cirebon
A'wan : [1] K.H. Mas Alwi Abdul Aziz (Surabaya) [2] K.H. Ridwan Abdullah (Surabaya) [3] K.H. Said (Surabaya) [4] K.H. Bisri Syamsuri (Jombang) [5] K.H. Abdullah Ubaid (Surabaya) [6] K.H. Nahrowi (Malang) [7] K.H. Amin (Surabaya) [8] K.H. Maskuri (Lasem) [9] K.H. Nahrowi (Surabaya)
Mustasyar : [1] K.H. R. Asnawi (Kudus) [2] K.H. Ridwan (Semarang) [3] K.H. Mas Nawawi, Sidogiri (Pasuruan) [4] K.H. Doro Muntoho (Bangkalan) [5] Syeikh Ahmad Ghonaim al-Misri (Mesir) [6] K.H. R. Hambali (Kudus)

Tanfidziyah


Ketua : H. Hasan Gipo dari Surabaya
Penulis : M. Sidiq Sugeng Judodiwirjo dari Pemalang
Bendahara : H. Burhan dari Gresik
Pembantu : [1] H. Soleh Jamil (Surabaya) [2] H. Ichsan (Surabaya) [3] H. Dja'far Alwan (Surabaya) [4] H. Usman (Surabaya) [5] H. Ahzab (Surabaya) [6] H. Nawawi (Surabaya) [7] H. Dahlan (Surabaya) [8] H. Mangun (Surabaya)

Didirikannya organisasi Nahldatul Ulama' ini bertujuan untuk melestarikan, mengembangkan serta mengamalkan ajaran agama Islam yang berpaham Ahlussunnah Waljamaah dengan menganut salah satu dari empat Imam Besar (Hambali, Syafi'i, Maliki dan Hanafi).

Bahkan dalam Anggaran Dasar pertama yang dibentuk pada tahun 1927 dinyatakan bahwa organisasi tersebut bertujuan untuk merapatkan kesetiaan kaum muslimin pada salah satu dari empat madzhab. Adapun kegiatan yang dilakukan pada masa itu antara lain:
  1. Memperluas jumlah madrasah dan memperbaiki organisasinya.
  2. Penyebaran ajaran Islam yang sesuai berdasarkan empat madzhab.
  3. Memperkuat persatuan ulama yang masih setia kepada madzhab.
  4. Membantu pembangunan masjid, musholla dan pondok pesantren.Memberikan bimbingan tentang jenis-jenis kitab yang diajarkan pada lembaga-lembaga pendidikan.
  5. Membantu anak-anak yatim piatu dan fakir miskin.

Dalam Pasal 3 Statuten Perkumpulan NU tahun 1933 disebutkan:


Mengadakan suatu hubungan antara ulama-ulama yang bermadzhab, memeriksa seluruh kitab-kitab apakah itu berasal dari kitab Ahlussunnah Waljamaah atau malah dari kitab-kitab ahli bid'ah, menyebarkan agama Islam dengan cara yang baik dan tidak merugikan orang lain, berikhtiar agar bisa memperbanyak madrasah, masjid, surau serta pondok pesantren, begitu juga dengan hal ikhwalnya anak yatim dan juga orang-orang fakir miskin, serta mendirikan badan-badan agar dapat memajukan pertanian, perniagaan yang halal dan tidak melanggar syara' agama.

Baca juga:

Daftar Perangkat Organisasi Nahdlatul Ulama (NU)

Daftar Perangkat Organisasi Nahdlatul Ulama (NU)

Nahdlatul Ulama atau di singkat NU memang berkaitan erat dengan perkembangan era pemikiran keagamaan dan juga dunia politik. Untuk itu, dalam menjalankan programnya, NU memiliki 3 daftar perangkat organisasi agar menjadikannya kokoh. Organisasi tersebut meliputi:

1. BANOM NU


Banom atau Badan Otonom adalah suatu perangkat organisasi yang dibangun untuk melaksanakan kebijakan berkaitan dengan kelompok masyarakat maupun beranggotakan perorangan.

NU sendiri memiliki 10 Banom, antara lain adalah:
  1. Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh atau di singkat JHQ
    Yakni organisasi yang melaksanakan kebijakan pada kelompok qari’ atau qari’ah (orang yang membaca tilawah Al-Quran) dan hafizh atau hafizhah (orang yang menghafal Al-Quran).
  2. Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah atau di singkat menjadi JATMN
    Yakni organisasi yang membantu untuk melaksanakan kebijakan pada pengikut thariqot yang diakui (mu’tabar) di lingkungan NU, sekaligus membina serta mengembangkan seni hadrah.
  3. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama di singkat IPNU
    Yaitu organisasi yang melaksanakan kebijakan pada pelajar, mahasiswa, dan juga santri khusus laki-laki. Organisasi ini menaungi Corp Brigade Pembangunan (CBP), semacam satgas khususnya.
  4. Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama di singkat IPPNU
    Yaitu suatu organisasi yang melaksanakan kebijakan pada pelajar, mahsiswa, dan juga santri khusus putri/perempuan. Organisasi ini menaungi Kelompok Kepanduan Putri (KKP) sebagai salah satu bidang garapnya.
  5. Gerakan Pemuda Ansor atau di singkat GP Ansor
    Yaitu suatu organisasi yang melaksanakan kebijakan pada anggota pemuda NU. Organisasi ini menaungi Barisan Ansor Serbaguna atau disebut Banser yang menjadi salah satu unit di bidangnya.
  6. Sarikat Buruh Muslimin Indonesia di singkat menjadi Sarbumusi
    Yaitu suatu organisasi yang melaksanakan kebijakan di bidang kesejahteraan serta pengembangan ketenagakerjaan.
  7. Fatayat
    Yaitu suatu organisasi yang melaksanakan kebijakan pada anggota perempuan muda NU.
  8. Muslimat
    Adalah suatu organisasi yang melaksanakan kebijakan pada anggota perempuan NU.
  9. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama atau di sebut juga ISNU
    Adalah suatu organisasi yang membantu melaksanakan kebijakan pada kelompok sarjana dan kaum intelektual.
  10. Pagar Nusa atau PN
    Merupakan suatu organisasi yang melaksanakan kebijakan pada pengembangan seni bela diri berdasarkan alur Nahdlatul Ulama.

2. LAJNAH NU


Lajnah merupakan perangkat organisasi untuk melaksanakan suatu program yang memerlukan penanganan khusus.

NU sendiri memiliki 2 lajnah, antara lain adalah:
  1. Lajnah Falakiyah
    Perangkat ini memiliki tugas untuk mengurus terkait masalah hisab dan rukyah serta pengembangan ilmu falaq.
  2. Lajnah Ta'lif Wan Nasyr atau disebut juga LTN
    Perangkat ini memiliki tugas untuk mengembangkan penulisan, terjemah, penerbitan buku/kitab dan juga media informasi berfaham Ahlussunnah Waljamaah.

3. LEMBAGA NU


Lembaga NU merupakan suatu perangkat departementasi organisasi yang bertujuan sebagai pelaksana kebijakan terkait dengan suatu bidang tertentu. NU sendiri memiliki 14 lembaga, antara lain adalah:
  1. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama atau LDNU
    Yaitu lembaga yang bertugas untuk melaksanakan kebijakan di bidang pengembangan dakwah agama Islam berfaham Ahlussunnah Waljamaah.
  2. Lembaga Pendidikan Ma’arif atau disebut dengan LP Ma’arif NU
    Yaitu sebuah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan di bidang pendidikan dan juga pengajaran formal.
  3. Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah atau di singkat RMI
    Yaitu sebuah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan di bidang pengembangan pondok pesantren.
  4. Lembaga Perekonomian NU atau di singkat LPNU
    Yaitu sebuah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan di bidang pengembangan ekonomi warga
  5. Lembaga Pengembangan Pertanian NU di singkat LP2NU
    Yaitu sebuah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan di bidangan pengembangan pertanian, lingkungan hidup dan eksplorasi kelautan.
  6. Lembaga Kemaslahatan Keluarga di singkat LKKNU
    Yaitu sebuah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan di bidang kesejahteraan sosial, keluarga, serta kependudukan.
  7. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia di singkat menjadi Lakpesdam
    Yaitu sebuah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan di bidang pengkajian dan pengembangan sumberdaya manusia.
  8. Lembaga Penyuluhan dan Pemberian Bantuan Hukum di singkat LPBHNU
    Yaitu sebuah lembaga yang bertugas melaksanakan penyuluhan dan pemberian bantuan hukum.
  9. Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia atau di singkat Lesbumi
    Yaitu sebuah lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan di bidang pengembangan seni dan budaya.
  10. Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah di singkat LAZISNU
    Lembaga yang bertugas untuk menghimpun, mengelola, serta menyalurkan infaq, zakat maupun shadaqah.
  11. Lembaga Waqaf dan Pertanahan di singkat LWPNU
    Yaitu sebuah lembaga yang bertugas untuk mengurus, mengelola dan juga mengembangkan tanah dan bangunan, sekaligus benda wakaf lainnya milik NU.
  12. Lembaga Bahtsul Masail atau di singkat LBM-NU
    Lembaga yang membahas dan memecahkan masalah yang tematik (maudlu’iyah) dan aktual (waqi’iyah ) yang memerlukan kepastian hukum.
  13. Lembaga Ta’miri Masjid Indonesia di singkat LTMI
    Yaitu sebuah lembaga yang bertugas untuk melaksanakan kebijakan di bidang pengembangan dan pemberdayaan masjid.
  14. Lembaga Pelayanan Kesehatan di singkat LPKNU
    Merupakan suatu lembaga yang bertugas melaksanakan kebijakan di bidang kesehatan.

Kamis, 27 April 2017

Pemuda Berbicara dengan Jari-Jemarinya

Seorang muslim hendaknya selalu menjaga seluruh anggota tubuhnya agar berbuat kebajikan dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah SWT. Salah satu dari anggota tubuh yang sangat sulit untuk dijaga adalah lisan. Lisan adalah raja atas seluruh anggota tubuh. Semua tunduk dan patuh terhadapnya. Jika ia lurus, niscaya semua anggota tubuh juga ikut lurus. Namun jika ia berbelok, maka berbeloklah semua anggota tubuh.

Lisan bagi setiap muslim sangatlah penting, sehingga lisan dikaitkan dengan iman yang lurus. Lisan seolah-olah bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh benda tajam, sebab jika lisan tersebut sekali terucap maka tidak bisa dipungkiri untuk dapat menariknya kembali.

Seperti halnya dengan kisah yang berjudul Pemuda Berbicara dengan Jari-Jemarinya ini yang menceritakan adanya seorang pemuda yang sangat berhati-hati dalam menjaga lisannya, sehingga berbicara pun ia hanya menggunakan jari-jemarinya kemudian ditulis diatas tanah. Berikut kisahnya.

Pemuda Berbicara dengan Jari-Jemarinya

Diceritakan dari Dzin Nun al-Mishri bin Ibrahim al-Mishri (157-245 H) rahimahullah, beliau berkata: 

"Pada suatu hari aku berjalan di pertamanan yang menghijau, subur dan indah. Tiba-tiba aku melihat pemuda yang sedang shalat di bawah pohon apel. Aku tidak tahu bahwa dia sedang melakukan shalat. Aku membaca salam kepadanya, akan tetapi dia tidak menjawab salam dariku. Aku ulangi lagi salam itu berkali-kali, kemudian ia mempercepat shalatnya. Selesai shalat, ia menggerakkan jari-jarinya menulis sebuah syair diatas tanah yang artinya:

*Lisanku dilarang untuk berbicara.*
*Karena lisan itu menyebabkan kehinaan bahkan malapetaka.*
*Apabila kamu berbicara, maka berdzikirlah kepada Tuhan.*
*Jangan sampai kamu lupa untuk menyebut dan memuji-Nya setiap saat.*

Dzin Nun berkata: "Setelah aku membaca syair itu, aku menangis dalam waktu yang lama. Kemudian aku menulis syair dengan jari-jariku diatas tanah yang artinya:

*Tiada seseorang yang menulis melainkan akan mendapat ujian.*
*Sedangkan masa akan mengabadikan apapun yang ditulis dengan tangannya.*
*Maka janganlah engkau menulis dengan tanganmu sesuatu.*
*Selain sesuatu yang menggembirakan di hari kiamat ketika engkau melihat.*

Ketika ia membaca tulisanku, maka ia menjerit dengan sangat keras dan kemudian meninggal. Aku ingin merawatnya, akan tetapi tiba-tiba ada panggilan: "Siapapun tidak boleh mengurusnya kecuali para malaikat."

Kemudian aku berjalan menuju suatu pohon dan melakukan shalat beberapa rakaat dibawahnya. Setelah itu aku melihat tempat jenazahnya, ternyata aku tidak melihat sama sekali bekas dan beritanya. Maha Suci Allah Maha Pengasih dan Pemberi anugerah kepada para hamba-Nya dengan apapun yang telah menjadi kehendak-Nya.

Hikmah cerita yang bisa dipetik: Ini adalah salah satu contoh keutamaan perbuatan dalam menjaga lisan.

Dari kisah Pemuda Berbicara dengan Jari-Jemarinya diatas semoga dapat memberi motivasi kepada kita semua agar selalu berhati-hati dalam berbicara baik kepada orang tua, teman maupun orang dibawah umur.

Baca juga:

Selasa, 25 April 2017

Penggembala Buta Huruf Menguasai Segala Ilmu

Waliyullah memang tidak pernah menunjukkan kalau dirinya adalah utusan Allah yang memiliki kelebihan. Mereka tidak pernah memamerkan apa yang dimilikinya. Dan kebanyakan dari mereka senang menyamar sebagai seorang yang miskin, seorang musyafir, bahkan pengemis sekalipun.

Seperti halnya yang pada kisah Penggembala Buta Huruf Menguasai Segala Ilmu ini yang menceritakan adanya seorang penggembala kambing yang buta huruf, namun mampu menguasai segala jenis ilmu. Berikut kisahnya!

Penggembala Buta Huruf Menguasai Segala Ilmu

Diceritakan bahwa seorang penggembala bernama Syaiban al-Jamal dilemparkan di depan binatang buas supaya dimakan, ternyata binatang itu malah memandang dan menciumnya. Ketika ia di tanya, apa yang engkau ucapkan ketika engkau di lemparkan di depan binatang buas?

"Aku berfikir pendapat fuqaha tentang air liur binatang buas," jawab Syaiban.

Dia pernah pergi haji bersama Sufyan ats-Tsauri, tiba-tiba keduanya dihadang oleh seekor binatang buas, tentu saja Sufyan ats-Tsauri terperanjat takut, namun Syaiban tenang saja bahkan memegang telinga binatang itu sambil mengusap-usapnya, ternyata binatang itu tunduk dan menggerak-gerakkan telinganya. Dia berkata: "Demi Allah, seandainya aku tidak takut tersohor, niscaya selendangku aku taruh diatas binatang ini sehingga aku bisa sampai di Makkah al-Musyarrafah."

Diceritakan pada suatu hari Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berjalan bertemu dengan Syaiban sedang menggembalakan kambing. Imam Ahmad berkata: "Aku ingin bertanya kepada penggembala ini agar aku dapat mengetahui jawabannya."

Imam Syafi'i berkata kepadanya: "Jangan mengganggunya."

Imam Ahmad menjawab: "Aku harus bertanya kepadanya," seraya mendekat kepada Syaiban dan bertanya: "Wahai Syaiban, bagaimana pendapatmu tentang orang shalat empat raka'at kemudian lupa empat kali sujud, maka apa yang wajib ia lakukan?"

Syaiban ganti bertanya: "Apakah engkau bertanya kepadaku dari madzhab kami atau dari madzhab kalian?"

Imam Ahmad bertanya: "Apakah masalah itu ada dua madzhab?"

Syaiban menjawab: "Ya."

Imam Ahmad berkata: "Coba terangkan kepadaku kedua-duanya!"

Syaiban berkata: "Adapun menurut madzhab kalian, ia wajib melakukan dua raka'at dan sujud sahwi. Sedangkan menurut madzhab kami, dia wajib memperhatikan hatinya agar tidak mengulangi lagi."

Imam Ahmad bertanya lagi: "Bagaimana pendaptmu tentang seseorang yang memiliki 40 ekor kambing dan sudah berputar satu tahun. Apa yang wajib ia lakukan?"

Syaiban menjawab: "Menurut madzhab kalian, ia wajib zakat satu ekor kambing. Sedangkan menurut madzhab kami, seorang hamba itu jika bersama dengan sayyidnya tidak dapat memiliki apapun."

Mendengar perkataan itu Imam Ahmad langsung pingsan. Setelah sadar beliau berdua (Imam Ahmad dan Imam Syafi'i) pergi meneruskan perjalanan.

Syaiban adalah orang ummi (buta huruf). Jika seorang ummi dari kaum shufi memiliki kemampuan seperti ini, maka bagaimana pendapatmu tentang orang shufi yang berilmu?

Dua imam besar (Imam Hanafi dan Imam Syafi'i) berkata: "Jika ulama-ulama itu bukan wali Allah, maka Allah tidak punya wali."

Termasuk do'a-do'a Syaiban: "Ya Wadud, Ya Wadud, Ya Dza al-'Arsyi al-Majid, Ya Mubdi'u Ya Mu'id, Ya Fa'alu lima yurid as-aluka bi 'izzika alladzi la yurom wa bi milkika alladzi la yazul, wa bi nuri wajhika alladzi mala'a arkana 'arsyika wa biqudratika allati qadarta biha 'ala khalqika an takfiyani syarra adh-dhalimin ajma'in."

Artinya: "Wahai Dzat Yang Maha Kasih Sayang, Wahai Dzat Yang Maha Kasih Sayang, Wahai Dzat Yang Memiliki 'Arsy Yang Agung, Wahai Dzat Pencipta Pertama, Wahai Dzat Yang Mengembalikan, Wahai Dzat Yang Berbuat Apapun Yang Dikehendaki, aku mohon kepada-Mu yang tidak pernah hilang dan demi kerajaan-Mu yang memenuhi tiang-tiang 'arsy-Mu, dan demi kekuasaan-Mu yang Engaku gunakan menguasai semua makhluk-Mu agar Engkau menjaga diriku dari kejahatan orang-orang yang dhalim seluruhnya."

Diterangkan dalam kitab "ar-Risalah" bahwa: Syaiban pernah berada di rumah Abdullah al-Qusyairi, yaitu rumah yang dikenal dengan nama "rumah binatang buas" karena setiap saat ada binatang-binatang buas yang datang ke rumah itu kemudian Abdullah memberi makan dan minum, setelah selesai binatang itu pergi kembali ke hutan.

Sahal bin Abdillah berkata: "Pada hari-hari permulaan aku menjadi murid, aku mengambil air wudhu pada hari Jum'at dan pergi ke masjid jami', ternyata masjid sudah penuh manusia. Kemudian aku melakukan su'ul adab (perbuatan tercela) melangkahi pundak-pundak jama'ah hingga sampai di shaf yang pertama, kemudian aku pun duduk. Di samping kananku ada seorang pemuda yang tampan bentuk dan sifatnya. Ia bertanya kepadaku: "Wahai Sahal! Bagaimana keadaanmu?"

Aku menjawab: "Baik-baik saja. Mudah-mudahan Allah memberikan kebaikan kepadamu."

Aku merasa heran bagaimana dia bisa mengerti namaku, padahal ia tidak pernah bertemu denganku. Pada waktu itu aku terkena tekanan (kebelet: Jawa) kencing sehingga aku takut dan bingung. Bila aku keluar pastu akan melangkahi pundak-pundak jama'ah lagi. Jika tidak, aku tidak mampu untuk menahannya. Tiba-tiba pemuda itu menoleh kepadaku dan berkata: "Wahai Sahal! Apakah engkau terkena tekanan kencing?"

Aku menjawab: "Ya."

Pemuda itu melepaskan kain ihram dari pundaknya dan menutupkannya ke seluruh tubuhku seraya berkata kepadaku: "Berdirilah dan lakukan hajatmu dengan cepat agar tidak ketinggalan shalat." Tiba-tiba aku tidak sadarkan diri. Setelah sadar, ternyata aku sudah berada di pintu rumah yang terbuka dan mendengar panggilan seseorang: "Wahai Sahal! Masuklah dan lakukan hajatmu."

Kemudian aku pun masuk ke ruangan yang besar, di situ ada pohon kurma dan di sampingnya ada tempat bersuci, sikat gigi, handuk dan ruangan tempat istirahat. Aku mulai melepas semua bajuku dan melakukan hajatku, mengambil air wudhu dan menggunakan handuk, kemudian aku mendengar suara: "Wahai Sahal! Adakah engkau telah selesai melakukan hajatmu?"

Aku menjawab: "Ya."

Pemuda itu lalu mengangkat kain ihramnya dari tubuhku, ternyata aku sudah duduk di tempatku semula. Tidak ada seorang pun yang mengetahui tentang apa yang aku lakukan sehingga aku berfikir dua kali dan aku menjadi bingung karena satu sisi aku menganggap ini adalah hal yang bohong dan satu sisi yang lain aku meyakini benar. Selesai melakukan shalat, aku mengikuti pemuda itu kemana ia pergi agar aku bisa mengenalinya. Ternyata pemuda itu masuk rumah di mana aku melakukan hajatku di dalamnya, kemudian ia menoleh kepadaku seraya berkata: "Wahai Sahal! Benarkah adanya?"

Aku menjawab: "Ya."

Kemudian aku mengusap kedua mataku dan membukanya, ternyata aku tidak melihat jejaknya. Mudah-mudahan Allah meridhainya.

Ini adalah satu contoh:
  1. Banyak sekali wali Allah yang pada lahirnya seperti orang ummi, akan tetapi menguasai segala ilmu baik ilmu syari'at maupun hakikat, karena ilmunya langsung diperoleh dari Allah SWT.
  2. Banyak juga para guru thariqah secata lahir sebagai orang ummi, akan tetapi menguasai semua ilmu baik lahir maupun batin, seperti: Syaikh Ali al-Khawwas, Syaikh Wali al-Ahdal, Syaikh Abil Ghaits, Syaikh Ahmad ash-Shoyyad, Syaikh Sa'id bin Isa dan lainnya. (Keterangan dari al-Habib Abdullah ba 'Alawi al-Haddad al-Hadlrami).
  3. Kata-kata Syaiban: "Seorang hamba jika bersama dengan sayyidnya, maka tidak bisa memiliki apapun, artinya: "manusia semua milik Allah dan apapun yang dimiliki manusia juga milik Allah, maka bila Allah menghendaki dari 40 ekor kambing, mungkin diberikan satu ekor, mungkin sepuluh ekor, mungkun separuhnya dan mungkin seluruhnya.
  4. Kita tidak boleh menganggap sepele kepada siapapun walaupun tampaknya hanya seorang penggembala kambing. Kita tidak tahu bahwa orang tersebut ternyata wali Allah. Wallahu A'lam.
Itulah kisah Penggembala Buta Huruf Menguasai Segala Ilmu yang saya tulis ulang dari buku 101 Cerita terjemahan dari KH. Moch Djamaluddin Ahmad pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhibbin Tambakberas, Jombang.

Semoga dengan adanya cerita diatas, kita semua bisa menjadi muslim yang lebih baik dari sebelumnya, dan tidak pula menghina seseorang yang kita anggap sepele. Sebab sejatinya, kita tidak pernah tahu bahwa orang tersebut ternyata seorang Waliyullah yang sedang menyamar.

Baca juga:

Senin, 24 April 2017

Wali Perempuan yang Selalu Rindu Bertemu Allah

Orang-orang pilihan Allah memang kebanyakan seorang laki-laki, namun tidak jarang juga ada seorang perempuan yang sengaja dipilih Allah untuk memberi faedah kepada semua manusia. Contohnya seperti kisah yang berjudul Wali Perempuan yang Selalu Rindu Bertemu Allah ini yang menceritakan seorang perempuan pengembara yang bisa menyentuh hati seorang laki-laki sebab perkataannya yang mulia. Inilah kisah Wali Perempuan yang Selalu Rindu Bertemu Allah yang saya ambil dari buku 101 Cerita.

Kisah Wali Perempuan yang Selalu Rindu Bertemu Allah

Diceritakan dari Dzin Nun al-Mishri radhiyallahu 'anhu, bahwasanya ia berkata;

Pada suatu malam aku keluar dari lembah Kan'an. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiriku seraya membaca surat az-Zumar ayat 47 yang artinya: "Dan telah tampak bagi mereka dari Allah sesuatu yang mereka tidak pernah menduga-duga."

Ketika seseorang itu mendekat padaku, ternyata ia perempuan yang mengenakan jubah bulu yang ditambal dengan kain bulu, tangannya memegang bumbung bambu dan tongkat. Ia berkata: "Siapa kamu?" Sama sekali ia tidak ada tanda-tanda rasa kaget melihat aku kaum pria.

"Aku seorang pengembara," jawabku.

Perempuan itu bertanya: "Wahai laki-laki! Pernahkah engkau melihat seseorang bersama dengan Allah menjadi pengembara. Allah itu selalu menghibur para pengembara dan menolong orang-orang yang lemah?" Mendengar pertanyaan itu aku pun menangis.

Ia bertanya lagi: "Kenapa engkau menangis?"

Aku menjawab: "Karena obat telah tepat mengena pada penyakit."

Ia bertanya lagi: "Kalau memang ucapanmu itu memang benar, kenapa engkau menangis?"

Aku ganti bertanya: "Mudah-mudahan Allah merahmatimu. Apakah orang yang benar itu tidak pernah menangis?"

"Iya," jawabnya.

Aku bertanya: "Kenapa demikian?"

Ia menjawab: "Karena menangis itu rasa enak di hati dan tempat kembali untuk bersandar. Dan hati itu tidak pernah merahasiakan sesuatu yang lebih benar daripada berteriak dan bersuara. Adapun menangis dari para wali itu menurut mereka adalah suatu kelemahan."

Aku (Dzin Nun) tertegun karena takjub karena perkataannya.

Ia bertanya; "Apa yang terjadi pada dirimu?"

Aku menjawab: "Karena takjub dari perkataanmu."

Ia bertanya lagi: "Apakah engkau telah lupa dengan penyakit yang baru saja engkau sebutkan?"

Aku berkata: "Mudah-mudahan Allah merahmatimu. Jika engkau sependapat, maka berilah aku sesuatu yang berfaedah, barangkali Allah memberi manfaat kepadaku dengan sesuatu itu."

Ia bertanya: "Suatu faedah yang telah diberikan seorang bijak kepadamu itu apakah masih membutuhkan tambahan?"

Aku menjawab: "Mudah-mudahan Allah merahmatimu. Saya bukanlah seorang yang merasa puas dari tambahan dari wali-wali agung."

Ia berkata: "Benar engkau, wahai miskin! Cintailah Tuhanmu dan rindulah kepada-Nya, karena pada suatu hari Ia (Allah) akan menampakkan kebesaran sifat keindahan-Nya untuk menampakkan karunia-Nya kepada para kekasih dan orang-orang pilihan-Nya serta orang-orang yang ahli mencintai-Nya. Kemudian ketika Allah menampakkan kepada mereka keindahan kesempurnaan sifat-sifat-Nya besok di hari kiamat, Ia akan memberi minum satu gelas dari minuman segar karena sifat keindahan-Nya, dan arak Salsabil karena telah bertemu dengan-Nya, dimana setelah minum itu mereka tidak akan haus selama-lamanya.

Setelah ia mengucapkan kalimat-kalimat itu, ia tidak sadarkan diri dan memanggil-manggil: "Wahai Kekasih Hatiku, sampai kapan Engkau meninggalkanku di dunia yang di dalamnya tidak kutemukan teman dekat yang benar."

Kemudian ia meninggalkan aku dan turun tergelincir ke dalam jurang sambil berkata: "Hanya kepada-Mu, tidak ke neraka, hanya kepada-Mu tidak kepada ahli neraka," hingga suaranya hilang dari pendengaranku. Mudah-mudahan Allah meridhainya dan memberi manfaat kepada kami dengan sebabnya. Amin...

Hikmah cerita: Ini adalah salah satu contoh wali perempuan dari wali-wali Allah yang selalu memberi faedah dan manfaat kepada siapapun yang bertemu dengannya.

Demikian Kisah Wali Perempuan yang Selalu Rindu Bertemu Allah, semoga dengan kisah cerita diatas dapat termotivasi dan mempertebal iman kita serta mampu menumbuhkan rasa rindu kita kepada Allah SWT.

Baca juga:

Minggu, 23 April 2017

Wali Kecil yang Membawa Berkah

Waliyullah adalah seseorang yang pada dasarnya sangat dekat dengan Allah dalam hal ibadah, namun mereka kebanyakan tidak terduga keberadaannya, karena dari mereka ada yang menyamar sebagai sosok anak kecil, pria, wanita, bahkan seorang pengemis. Sungguh Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Dalam kisah Wali Kecil yang Membawa Berkah ini menceritakan bahwa kita senantiasa tidak boleh menghina orang lain, bahkan seorang anak kecil, mereka harus kita hormati layaknya orang dewasa. Karena sesungguhnya kita tidak pernah tahu bahwa sebenarnya mereka adalah seorang kekasih Allah yang sedang menyamar yang tentunya dapat memberikan faedah berharga kepada kita. Inilah kisah Wali Kecil yang Membawa Berkah, semoga bisa terhibur.

Wali Kecil yang Membawa Berkah

Diriwayatkan dari Syaikh Abi Abdillah al-Jalla' radhiyallahu 'anhu, bahwasanya ia berkata:

Pada suatu hari ibuku ingin makan ikan laut. Kemudian ayahku pergi ke pasar dan aku menyertainya. Ayahku membeli ikan dan berhenti sejenak menunggu orang yang mau membawakan ikan itu untuknya. Kemudian ayah melihat seorang anak kecil yang berdiri tepat di depannya. Ia berkata: "Paman! Apakah engkau menginginkan ada orang yang mau membawakan ikan itu untukmu?"

"Iya," jawab ayahku.

Kemudian ikan itu dibawakan oleh si anak kecil dan berjalan bersama kami. Tiba-tiba kami mendengar suara adzan. Anak kecil berkata: "Paman! Seorang muadzin telah mengumandangkan adzan, aku butuh mengambil air wudhu dan shalat. Jika engkau rela, maka aku akan shalat dulu. Bila tidak, maka bawa sendiri ikan itu."

Anak kecil itu dengan cepat meletakkan ikan dan berjalan menuju masjid. Ayahku berkata: "Kita lebih utama daripada dia untuk bertawakkal kepada Allah tentang ikan ini." Kemudian kami masuk masjid dan melakukan shalat. Anak kecil itu juga melakukannya.

Ketika kami keluar masjid, ternyata ikan itu masih tetap ada di tempatnya. Dengan cepat anak kecil itu membawanya dan berjalan bersama kami sampai di rumah. Ayahku menuturkan persitiwa itu kepada ibuku. Kemudian ibuku berkata: "Katakan padanya agar ia mau duduk dan makan bersama kita." Setelah ayahku mengatakan hal itu kepada si anak kecil, ia menjawab: "Aku berpuasa."

Kemudian ayahku berkata: "Kalau begitu kembalilah kamu kepada kami sore hari nanti."

Anak kecil menjawab: "Jika aku telah membawakan ikan pada hari ini sekali, maka aku tidak membawanya lagi untuk yang kedua kali, karena aku akan masuk masjid sampai sore hari, kemudian aku akan datang lagi kepada kalian." Anak kecil itu kemudian pergi.

Pada sore hari, anak kecil itu datang dan makan bersama dengan kami. Setelah selesai makan, kami menunjukkannya tempat bersuci dan tempat khalwat yang ia pilih. Setelah itu ia kami tinggalkan di sebuah rumah.

Di dekat rumah kami ada seorang wanita yang lumpuh. Pada waktu malam, setelah anak kecil itu menginap, tiba-tiba wanita lumpuh itu dapat berjalan. Wanita itu menjawab: "Aku berdo'a, Wahai Tuhanku, demi kemuliaan tamu kami, sembuhkanlah aku dari sakitku." Tiba-tiba aku dapat berdiri.

Kemudian kami pergi mencari anak kecil itu, ternyata pintu-pintu rumah terkunci seperti biasanya dan kami tidak menemukan si anak kecil itu. Mudah-mudahan Allah meridhainya.

Aku berkata: "Sebagian dari kekasih Allah ada pada anak kecil, sebagian dari mereka ada juga tua, sebagian dari mereka ada para hamba-hamba sahaya, sebagian dari mereka ada orang-orang merdeka, sebagian dari mereka ada dari kaum wanita dan dari lelaki, dan ada juga orang-orang gila dan orang-orang berakal."

Termasuk kekasih Allah dari anak-anak adalah anak kecil dari putra seorang Syaikh di Negeri Yaman yang bermain-main bersama anak-anak kecil. Apa saja yang diinginkan masyarakat kemudian minta kepadanya, ia mampu memberikannya seketika itu di tempat mereka bermain. Ketika ayahnya mengetahui hal seperti itu, maka ia berkata: "Wahai anakku! Beri makan aku dengan makanan ini dan itu." Kemudian anak itu memberikan apa yang diminta ayahnya dengan seketika.

Selanjutnya, segala sesuatu yang diminta ayahnya dari padanya, ia dapat menghadirkannya dengan seketika. Kemudian ayahnya mengusap kepadanya seraya berkata: "Mudah-mudahan Allah memberkatimu: Berilah aku makanan ini dan itu!" Kemudian anak kecil itu memohon agar dapat berhasil.

Hal ini seperti demikian kebiasaannya. Akan tetapi, tidak ada sesuatu yang berhasil. Mulai dari waktu itu juga pintu rumah tertutup sehingga tidak dapat menemui anak kecil itu. Menurut pemikiran ayahnya, menutup pintu rumah lebih dapat menyelamatkannya, karena ia khawatir anaknya menjadi tersohor, terjadi ujub dan lain-lain. Mudah-mudahan Allah meridhai ayah dan putranya.

Hikmah yang dapat dipetik: Ini adalah salah satu contoh bahwa kekasih Allah (wali) itu dirahasiakan Allah di tengah-tengah masyarakat, karena dari mereka ada yang balita, remaja, tua, pria, wanita, seperti orang gila dan orang berakal. Oleh karenanya, kita tidak boleh menghina kepada siapapun dari manusia di sekeliling kita, karena dikhawatirkan kebetulan wali Allah, dimana kita tidak mengenalinya.

Itulah kisah Wali Kecil yang Membawa Berkah yang saya ambil dari buku 101 Cerita. Semoga dengan adanya cerita ini, kita bisa termotivasi agar tidak menghina orang-orang disekitar kita. Semoga bermanfaat.

Sabtu, 22 April 2017

Orang Hina di Mata Manusia Belum Tentu Hina di Mata Allah

Kisah Orang Hina di Mata Manusia Belum Tentu Hina di Mata Allah - Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna kecuali Rasulullah SAW dimana Beliau merupakan utusan Allah SWT yang paling istimewa. Manusia pada dasarnya terlahir mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, kita harus sadar mereka yang memiliki keterbatasan fisik, mental, maupun fikiran hendaknya tetap kita hormati.

Kisah yang berjudul Orang Hina di Mata Manusia Belum Tentu Hina di Mata Allah ini adalah sebuah kisah yang menceritakan adanya seorang budak yang dianggap hina oleh para tetangga majikannya, namun sebenarnya, budak tersebut amat sangat mulia di mata Allah, bahkan melebihi majikannya. Tanpa basa-basi, yuk langsung saja pada ceritanya.

Orang Hina di Mata Manusia Belum Tentu Hina di Mata Allah

Diriwayatkan dari Syaikh Abdul Wahid bin Zaid radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

Pernah aku membeli seorang budak untuk menjadi pembantu rumah tanggaku. Setiap malam tiba aku mencarinya di rumahku, namun tidak menemukannya, padahal semua pintu terkunci seperti biasanya.

Setelah di pagi hari, ia datang dan memberi aku uang satu dirham yang terukir Surat al-Ikhlas. Aku bertanya kepadanya: "Darimana engkau peroleh uang ini?"

Ia menjawab: "Wahau gustiku, setiap hari engkau akan mendapatkan uang seperti ini dariku, asal engkau tidak mencari aku pada malam hari."

Budakku setiap malam selalu menghilang dan datang pada pagi harinya dengan membawa uang satu dirham yang tertulis dengan Surat al-Ikhlas.

Pada suatu hari, datanglah kepadaku para tetanggaku seraya berkata: "Wahai Abdul Wahid! Jual saja budakmu itu, karena ia seorang penggali kuburan!" Perkataan tetanggaku itu sempat menyusahkan hatiku, dan aku berkata kepada mereka: "Kembalilah kamu sekalian, aku akan menjaganya pada malam ini!"

Ketika malam tiba, setelah shalat Isya', budakku berdiri untuk keluar dari rumah. Ia memberi isyarah ke pintu yang terkunci pertama, tiba-tiba pintu itu langsung terbuka. Dan memberi isyarah lagi, pintu itu kemudian terkunci. Kemudian ia menuju ke pintu yang kedua. Ia memberi isyarah kepada pintu kedua yang terkunci, pintu itu lalu terbuka. Setelah memberi isyarah lagi, pintu itu pun terkunci. Begitu pula ia lakukan pada pintu yang ketiga. Aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri.

Kemudian ia keluar, aku mengikuti dan berjalan di belakangnya sampai ke bumi halus (gundul) tanpa tanaman. Kemudian ia melepaskan bajunya dan mengenakan kain tenun kasar dari bulu, lalu shalat sampai terbut fajar. Ia mengangkat kepalanya ke arah langit dan berdo'a: "Wahai Gustiku Yang Besar, datangkanlah ongkos gustiku yang kecil." Tiba-tiba jatuh dari langit satu keping uang dirham. Kemudian ia ambil dan ia masukkan dalam saku bajunya.

Melihat hal itu aku menjadi bingung dan betul-betul bingung yang amat sangat. Aku berdiri mengambil air wudhu dan shalat dua raka'at serta mohon ampun kepada Allah SWT dari dugaan tidak baik di dalam hatiku, dan berniat untuk memerdekakannya. Setelah itu aku mencarinya, namun tidak menemukannya. Kemudian aku pulang dengan sangat susah, tetapi aku tidak tahu bumi apa yang sedang aku tempati.

Tiba-tiba aku bertemu dengan seorang pengunggang kuda yang mengendarai kuda kelabu. Ia berkata kepadaku: "Wahai Abdul Wahid! Mengapa engkau duduk di tempat ini?" Aku pun menceritakan sesuatu yang aku alami.

Penunggang kuda bertanya: "Tahukah engkau, berapa jarak perjalanan antara tempat ini dengan negaramu?"

Aku menjawab: "Tidak!"

Penunggang kuda berkata: "Perjalanan dua tahun bagi penunggang kuda yang cepat. Maka engkau tidak dapat keluar dari tempat ini sebelum budakmu kembali kepadamu. Dan ia akan datang kepadamu pada malam ini."

Baca juga: Wanita Dibakar di Dalam Tungku, Selamat Bahkan Bertambah Cantik

Setelah malam gelap tiba, tiba-tiba aku bertemu dengannya yang datang sambil membawa wadah berisi makanan yang bermacam-macam, seraya berkata kepadaku: "Makanlah wahai gustiku, dan jangan kau ulangi lagi perbuatan seperti ini!"

Kemudian aku makan, dan dia berdiri shalat sampai terbit fajar. Setelah itu ia memegang tanganku dan mengucapkan suatu perkataan yang aku tidak paham, sambil melangkah bersamaku beberapa langkah. Tiba-tiba aku sudah berdiri di depan pintu rumahku.

"Wahai gustiku! Tidakkah kau telah berniat untuk memerdekakanku?" tanyanya kepadaku.

"Memang aku berniat seperti itu," jawabku.

Ia berkata: "Merdekakanlah aku dan ambillah harga diriku, engkau akan mendapatkan pahala!"

Kemudian ia mengambil sebuah batu dari tanah dan memberikannya padaku, lalu tiba-tiba batu itu berubah menjadi sepotong emas. Kemudian ia berjalan meninggalkanku. Tentu saja aku menjadi gelisah karena berpisah dengannya.

Suatu hari aku berkumpul dengan tetangga-tetanggaku, mereka bertanya: "Apa yang kau lakukan dengan si penggali kubur?"

Aku menjawab: "Ia bukan penggali kubur, akan tetapi Penggali Nur."

Kemudian aku ceritakan kepada mereka karomah-karomah yang telah aku saksikan sendiri dari budakku. Mendengar ceritaku, mereka menangis dan bertaubat dari dugaan buruk yang ada dalam hati mereka. Mudah-mudahan Allah meridhai mereka dan memberi manfaat sebab mereka.

Hikmah cerita: Ini adalah salah satu peringatan kepada setiap orang mukmin agar tidak mempunyai prasangka buruk kepada siapapun walaupun lahirnya seperti orang hina, sebab Allah SWT merahasiakan kekasih-Nya di tengah-tengah masyarakat.

Itulah sedikit daripada kisah Orang Hina di Mata Manusia Belum Tentu Hina di Mata Allah, semoga dengan adanya cerita ini kita semua dapat mengambil hikmahnya, terutama agar tidak menghina orang lain meski orang tersebut memiliki keterbatasan fisik.