Senin, 26 Desember 2016

Anjuran Untuk Mengulang-Ulang Doa

Anjuran Untuk Mengulang-Ulang Doa - Berdoa adalah sebuah permintaan mengharap sesuatu kepada Sang Pencipta yang ditujukan kepada diri sendiri maupun orang lain. Sejatinya seorang Muslim ketika berdoa haruslah dengan yang baik-baik, namun tak jarang ada juga seseorang ketika berdoa mengharapkan sesuatu yang jelek karena didasari rasa marah atau kesal. Akan tetapi hal tersebut tentu perbuatan yang tidak baik, sebab kita sebagai manusia yang tidak memiliki apa-apa seharusnya saling mendoakan yang baik-baik saja.

Anjuran Untuk Mengulang-Ulang Doa

Berbicara tentang doa, ada banyak sekali dalil Naqli dan juga hadits yang sudah menjelaskan. Akan tetapi pada kesempatan ini saya akan membahas tentang anjuran untuk mengulang-ulang doa yang telah kita panjatkan kepada Allah.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ibnu Mas'ud, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم كَانَ يُعْجِبُهُ أَنْ يَدْعُوَ ثَلاَثًا وَيَسْتَغْفِرَ ثَلاَثًا

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai berdoa (dengan mengulang-ulang) tiga kali dan istighfar tiga kali.”

Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad 1/394 dan 397; Abu Dawud, Kitab ash-Shalah, Bab al-Istighfar, 1/477, no. 1524; an-Nasa`i dalam al-Yaum wa al-Lailah, no. 461; Ibnu Hibban, no. 923; Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, 10/159, no. 10317; Ibn as-Sunni dalam al-Yaum wa al-Lailah, no. 368: dari beberapa jalur, dari Isra`il, dari Abu Ishaq, dari Amru bin Maimun, dari Ibnu Mas’ud dengan hadits tersebut.

Hal ini tentu saja merupakan sanad yang shahih, sebab riwayat Isra`il dari Abu Ishaq adalah bersambung/lurus. Imam Al-Bukhari telah memberi ridha kepadanya. Benar, Abu Ishaq telah melaksanakan riwayat dengan “dari” (‘an’anah), padahal dirinya adalah mudallis, dan seakan-akan karena hal tersebut al-Albani mendhaifkannya.

Menurutku (Ensiklopedia Dzikir Dan Do’a, Imam Nawawi, Pustaka Sahifa Jakarta), ini tidaklah tepat, sebab lafadz ini telah muncul dalam Muslim, Kitab al-Jihad, Bab Ma Laqiya an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, 2/1471, no. 1494 dalam susunan kalimat yang panjang. Kemudian di suatu ketika Abu Ishaq menegaskan dengan lafazh sima’ (mendengar) dari Amru pada riwayat Muslim, namun tidak memunculkan lafadz, hanya maknanya saja. Siapa saja yang menelaah sanad-sanad Muslim dan lafadz-lafadznya maka ia akan menshahihkan hadits ini. Ibnu Hibban telah menshahihkannya dan Al-Arna`uth telah menyetujuinya. Sementara Al-Asqalani dan Al-Mundziri diam terhadapnya.

Sumber: Ensiklopedia Dzikir Dan Do’a, Imam Nawawi, Pustaka Sahifa Jakarta

Artikel Terkait

Salah satu santri TPQ Rahmatul Ihsan yang ingin berbagi pengetahuan di dunia maya.

Tambahkan komentar Anda
EmoticonEmoticon